Kosong.

Tadi pagi abis pumping di ruang laktasi, salah seorang temen cerita kalo dia abis ngirim e-mail argumen ke salah seorang ustadz terkait salah satu isi kultwitnya. Ustadznya yang mana, namanya siapa saya ga tau, ga mau tau lebih tepatnya lagi.

Kurang lebih salah satu isi kultwitnya begini:

“Betapa banyak ibu yang hanya meninggalkan asi lewat botol, anak sehat namun jiwanya kosong.”

Sesungguhnya saya tidak peduli siapa, profesi apa yang mengatakannya.

Kemudian saya bingung…

Jiwa kosong itu seperti apa? Apakah kelak anak itu tidak memiliki emotional quotion yang baik? Apakah kemudian ia tidak berperikemanusiaan? Apakah yg dimaksud adalah si anak tidak memiliki kedekatan emosional yang kuat dengan ibunya? Apakah si anak tidak memiliki kasih sayang kepada ibunya? Apakah si anak berpikir ibunya si raja tega?

Apakah kemudian perjuangan para ibu bekerja yang meluangkan waktu untuk memerah asinya itu sia-sia?

Dulu saat saya lahir, ibu saya masih bekerja. Istilah sekarangnya itu working mom. Selama beliau bekerja saya dititipkan, dibekali dengan susu formula (karena dulu belum populer manajemen asip seperti sekarang) beserta dotnya kalo-kalo saya ngamuk kehausan/lapar. Selesai mama bekerja, kemudian saya disusui kembali.

Lalu…apakah saya terlihat seperti seseorang dengan jiwa yang kosong sekarang?

Untuk mereka yang mengenal saya dengan dekat pasti tau saya adalah anak yang sangat cengeng, bahkan ga bisa jauh dari mama. Sampai sekarang saya sudah berumah tangga pun begitu, selalu ngenges kalo ada hal-hal yang berhubungan dengan keluarga, terutama mama. Setiap hari selalu berkomunikasi dengan mama, baik itu sms/telepon, saling memberi kabar, bercerita dari yang penting sampe obrolan abal-abal. Rasanya kurang kalo ga ada kabar, karena saya butuh mama.

GOSH! Sampai kapanpun ga akan pernah berubah. Juga tidak ada setitikpun saya merasa mama bukanlah mama yang baik, she’s a big thing in my life, i put my hats off for her, sampai kapanpun ga akan bisa balas jasa mama. She’s my heroin ! Saya sayang mamaa, banget! kalo bisa malah pengen deket terus, tiap hari ketemu. Dan ini masih mending, pengaruh dari tingkat kedewasaan ya, karena kalo dulu waktu masih kecil, bahkan kalo mama (maaf) BAB, saya duduk di lawang pintu sambil megangin tangan mama saking ga mau ditinggalnya 😀

Lalu…?

Adakah hubungannya dengan mimi dari botol?dari dititipkannya saya selama mama bekerja?

Saya berpendapat seperti ini bukan karena saya ibu bekerja, ada juga kan ibu-ibu lain yang full time mom tapi mimi-in anaknya lewat botol, bisa karena hal medis sehingga asinya seret padahal pengen banget bisa nyusuin, dsb. Bahkan saya yakin jika Bapak yang ber-statement tsb di atas pasti lebih memilih dokter kandungan wanita untuk istrinya melahirkan. Lalu tidakkah sekalipun ia berpikir, mungkin saja dokter kandungan/bidan tsb memiliki seorang bayi di rumah yg ditinggal dgn asi dalam botol? Meski begitu dokter kandungan/bidan tsb bermanfaat bagi orang lain.

So, are you judging me as a human being with an empty soul? just because what my mom did?

i’m sorry, man.. i dont buy it.

Advertisements

Let's share what you think!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s