Rawvolution: Journey of My Taste Buds

SUPERAWESOME ! saya paksain jadi satu kata buat gambarin acara tanggal 7 Desember 2014 kemarin di Songolas, Rempoa. Tepatnya di Burgreens. It is both super and awesome ⭐

Awalnya tertarik banget sama acara ini karena, frankly, the idea of raw food diet/healing is still a weird thing for us, indonesians. Padahal, kalo menurut ayurvedic wisdom, orang indonesia yg mana tinggal di daerah iklim tropis sangat cocok dengan diet sehat ini. Tapi balik lagi, gak semua orang indonesia juga cocok. Kembali pada tipe ato konstitusi badan kita.
Dan rasanya, saya sebagai si emak, perlu untuk memperbanyak ilmu mengenai hal ini. I’m the one who’s responsible of the nutrition and daily menus at home, for the hubbby, for the kid. Jadi penting bingits!

Tapi sekarang rasanya saya bakal nulis tentang “how i feel about a day with raw food” dulu. Karena jujur nih, acara kemarin tuh full valuable knowledge and wisdom for our health! saking full-nya ampe tumpeh-tumpeh ni ilmu di kepala sampai saya bingung mo nulis dari mana 😀 haha

First thing first, what i like about Ayurveda that you really need to know is, it is timeless and cover your every aspects with 360 degree approach to your healing. Dan kalo saya bandingkan dengan segala teori dan metode kesehatan, it is all back to ayurvedic wisdom. Semuanya makes sense, saling berkesinambungan dan melengkapi. Dua yg sudah dan masih saya bandingkan juga pelajari, and it made sense so far adalah The Blood Type Diet-nya Dr. D’Adamo dan Teori Miracle of Enzyme-nya Hiromi Shinya. Hanya saja, ayurvedic wisdom tidak sesaklek teori-teori yg saya sebutkan tadi. Ayurveda melihat tubuh manusia sebagai hal yg kompleks dan tidak bisa digeneralisasi. Ayurveda is all about balance, every kind of food is good, as long as it balances us.

Selain itu, yg terpenting adalah porsi makan kita cukup. Cukup di sini adalah just to get us through, misalnya sarapan dengan porsi yg cukup untuk sampai datang waktu makan siang, menjaga agar kadar blood sugar kita gak tiba-tiba terjun menjelang makan siang. Kalo istilah dalam islamnya, makanlah cukup untuk menegakkan tulang punggung kita.

Oke, balik lagi, total peserta kemarin sekitar 25 orang. And i was lucky karena ternyata my bestie Dodolincess Gresa pun salah satu pesertanya! hahaha gak jadi mati gaya sendiri kan eike 🙄

dodoliwives~~

dodoliwives~~

Here are the amazing speakers:

Kimmana Nichols

Kimmana Nichols

Max and Helga from Burgreens

Max and Helga from Burgreens

Shakti Grace

Shakti Grace

The foods:
SAMSUNG CSCSAMSUNG CSCSAMSUNG CSC

Saya yg selama ini gak pernah memaksakan diri untuk makan makanan sehat semacem ini awalnya skeptis sama rasanya. Takut bau mentah, tapi pas dicobaaa… uuh so yummy! Wangi khas rempah bikin saya sanggup ngabisin satu piring saat break. Dan kalo dikira rasanya hambar? engga sama sekali! Susah sebenernya mendeskripsikan rasanya, but this was the most delicious healthy food i’ve ever eaten 😆 Salut buat Max dan Shakti yg ngolah raw food ini dengan sangat jenius! This thing is what i need to learn.
Tapi kemudian, ketidakbiasaan saya pun muncul saat lunch. Saya yg meat-freak ini sempat berharap long pepper yg ada di salah satu menu berubah menjadi sosis. Saya sangat kenyang dan kangen daging. Tapi disitulah saya ngeh kalo saya bener-bener butuh detoksifikasi 😀 Pernah membaca cerita Teh Zia saat dia detoks, she was crying for a chili! o_O Kalo ini dilanjutkan juga kayaknya saya bakal nangis minta daging hahaha!

Our Lunch:

Geniuses behind The Lunch Menus

Geniuses behind The Lunch Menus

20141207_134357

Semakin sore, saya mulai terbiasa dengan rawfood tersebut dan merasa ketagihan. Hingga saat makan malam di rumah, saya sempat merasa aneh menyantap capcay yg tersaji. Yang ada di pikiran adalah “Ya ampun layu banget yak kalo dipiki-pikir, beda banget sama makanan yg saya makan tadi di event. Rasa asli sayuran di capcay pun kebanyakan sudah tertutup rasa MSG dan bumbu dapur.” Inilah mengapa saya tulis judul “Journey of My Taste Buds“, karena selama dalam event sungguh saya merasa lidah saya berpetualang menikmati segala rasa sayuran, buah, dan rempah yg tersaji secara original! Efek yg saya rasakan pada tubuh setelah menyantapnya pun berbeda. Membuat badan terasa lebih segar, kenyang lebih lama, tapi tidak “heavy“.

Bagaimanapun, let’s start step by step, dimulai dari kesadaran akan makanan sehat, menyelaraskannya dengan body type kita agar dapat menyeimbangkan, hingga mungkin akhirnya bisa sepenuhnya menerapkan pola makan ini. Seperti saran Max dan Helga:

untuk membiasakan memakan makanan sehat bukanlah dengan meninggalkan makanan yg kurang sehat tersebut. Tapi dengan lebih banyak dan sering memakan makanan yg sehat. Kelak, craving kita untuk makanan yg kurang sehat tersebut akan berkurang bahkan hilang dengan sendirinya.

Setuju! 😎

Kalo badan kita sendiri gak sehat dan nyaman, bagaimana kita bisa berbuat banyak dharma/kebaikan bagi orang lain, kan? 😉

Taken from @wholistic_balance

Taken from @wholistic_balance

Advertisements

2 thoughts on “Rawvolution: Journey of My Taste Buds

  1. Pingback: Buah Lokal: Sehat dari Negeri Sendiri | Nadcissism

  2. Pingback: Because Every Woman is A M.O.M – Win A Specifically-Blended-Essential-Oil Just for You! | NADCISSISM

Let's share what you think!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s