Hid(eath)up

Life is never an option, and so is death. Sejatinya sebuah perjumpaan, pasti ada perpisahan. Begitu juga dengan ungkapan bahwa segala sesuatu yg bernyawa pasti akan menemui ajalnya.

Sabtu yg lalu, rasanya sangat gloomy ditambah dengan cuaca yg selalu mendung dan diakhiri dengan hujan hingga saat ini. Ya, saat ini. Oleh karenanya sudah dua orang blogger di timeline reader saya yg sudah menulis perihal banjir dari perspektif masingmasing 🙂
Tapi, ada hal lain yg bikin weekend kemarin rasanya kurang suka cita, yaitu beberapa berita duka dari lingkungan sekitar. Mulai dari mertuanya temen, lalu salah satu member dari salah satu komunitas yg saya ikuti. Dan yg terakhir, saat saya sedang berada di sebuah acara, tiba-tiba saja Mbak di rumah SMS bahwa Ibu yg tinggal di depan rumah kontrakan kami meninggal dunia. Innalillah… Saya kaget, asli, gak percaya. Dan pada akhirnya berita kematian selalu membuat saya pening O_o

SMS si Mbak membuat saya sedikit melamun di acara tersebut. Pikiran saya tak lepas dari bayangan almarhumah. Mengapa tidak? beliau sangat taat dan baik hati, terlebih cukup dekat dengan si Cemplu. Beliau sangat perhatian, seperti pada cucu sendiri. Padahal beliau sendiri tinggal serumah dengan beberapa cucu beliau yg masih balita. Trus kenapa saya pening? 😕

Begini, hanya dengan mendengar kabar berita duka, pikiran saya mulai melambung karena diingatkan pada kalimat yg saya tulis di awal postingan ini. Apalagi jika yg meninggal adalah orang yg berada di lingkungan sekitar kita. Belum selesai pikiran saya akan hal tadi, saya kemudian membayangkan kapan saat terakhir saya bertemu almarhumah. Dan karena almarhumah meninggal di Penang, saat berkunjung ke rumah kerabatnya di sana, saya juga jadi membayangkan bagaimana beliau di saat-saat terakhirnya. Bagaimana perasaan almarhumah sepanjang perjalanan terakhirnya ke Penang. Did she ever notice it was her last flight? 😦
Dan tentunya pikiran-pikiran tsb kembali pada saya. Saya selalu tertampar menyadari bahwa pada hakikatnya death is a part of life itself. Saya kemudian berpikir kembali bekal apa yg sudah saya punya. Jangankan bekal, ilmu agama dan ilmu lain yg saya miliki untuk hidup ini saja masih belum seberapa 😥
Contohnya saja kemarin saat hendak melayat ke rumah almarhumah. Ditambah dengan perbedaan adat kebiasaan, saya dan suami merasa rikuh. “Kita mesti gimana nih?” 😐

Saat itu, saya baru benar-benar merasakan bagaimana menjadi bagian dari masyarakat seutuhnya. Selama ini, saat masih tinggal bersama orang tua, saya seolah-olah hanya “bayangan” dari masyarakat tsb. Saya merasa berada di belakang punggung orang tua, tidak terlalu peduli saat ada sesuatu terjadi di lingkungan masyarakat. Ya, sekarang juga sih kadang masih mikir belum “sepenuhnya” juga, karena status kami yg mengontrak dan tidak berpikir untuk settle down di sana. Tetapi seharusnya itu juga gak pengaruh. Mungkin ini juga bisa jadi catatan bagi anak-anak muda *ceilah* jaman sekarang. Be more aware and care with the neighborhood. Hingga jika saatnya kita bener-bener terjun ke dalamnya, kita gak akan merasa rikuh atau kikuk. Belum lagi hal-hal tersebut juga merupakan bagian yg harus anak-anak kita ketahui kelak. Karena sebagai orang tua juga sudah seyogyanya mengajarkan anak how to behave, how to socialize.

Oleh karena itu, saya dan suami pun sepakat bahwa PR kami banyak banget! :mrgreen: Mulai dari mempelajari ilmu agama lebih dalam lagi, biar saat anak nanya kelak kami gak kelimpungan, juga untuk menambah khasanah yg hopefully bisa diamalkan buat bekal. Selain itu juga musti lebih aware ama kesehatan! Duh, ini yg susah banget :\ Rasanya sangat perlu untuk segera diubah nih. Yes, we really need to re-arrange our life.

Jangan pernah menunda perbuatan baik yang bisa kau lakukan sekarang. Karena kematian tak memilih apakah kau sudah atau belum melakukan hal yg seharusnya kau lakukan. Kau harus ingat, kematian tak pernah menunggu siapa atau apapun, karena ia tak punya musuh, juga alpa berteman. -Srikandi Merah Putih, by Dono Indarto

Advertisements

28 thoughts on “Hid(eath)up

  1. Naaaad postinganmu ini membuatku menghela napas panjang dan mulai menelaah hidupku kembali. Yaa banyak sisi kehidupanku juga yang harus diperbaharui supaya waktuku di bumi ini boleh jadi waktu yang terbaik dan menjadi kontrobusi buat orang sekitarku.

    Like

  2. Baru-baru ini juga tetangga saya di kampung meninggal dunia dan saya merasakan hal yang kurang lebih sama. Berpikir tentang bagaimana kalau hal yang sama terjadi di tempat saya sekarang dan berpikir tentang bagaimana kalau hal yang sama terjadi di keluarga saya. Huhu. Sepertinya saya harus lebih bersosialisasi.

    Terima kasih untuk inspirasi yang sudah membuat saya mawas diri, Mbak.

    Like

    • Exactly, Gar… We should learn those kinda thing. Karena bagaimanapun sedikit sulit mendatangi seseorang dlm suasana duka. We need to be sympathy and also empathy, but we have to courage them as well,meskipun ya kita sndiri tahu kalo couragement itu kadang trdengar klise. Karena bagaimanapun ditinggal orang tersayang pasti sangatlah berat. Jadi, kita sbg pelayat msti bisa menempatkan diri dan bersikap dgn pas.

      Like

  3. Pingback: EF #6: Alter-Ego | Nadcissism

Let's share what you think!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s