Kasus Pembegalan dan Malcolm Gladwell

Courtesy by Jantoo Cartoons

Courtesy by Jantoo Cartoons


To my concern, berita soal pembegalan di Tangerang belakangan ini bener-bener ngagetin. Street robbery explodes! Mungkin karena saya gak tinggal di sana, jadi tahunya pas udah rame aja. One or two things adalah dengan banyaknya brodcast message untuk lebih waspada, mulai dari disturbing picture si begal yg dibakar, sampe screen capture calon korban yg berhasil lolos. Atau mungkin emang tingkat kriminalitasnya yg tiba-tiba melonjak naik? Entahlah. Saya jadi berpikir mungkin ada semacam pemantik (trigger) yg menyebabkan hal tersebut seperti itu sekarang.
Mikirin hal itu, saya jadi inget sama Malcolm Gladwell. Bukan, bukan karena doi mantan begal, tapi karena teori The Power of Context (Kekuatan Konteks) yg ditulisnya di buku The Tipping Point :mrgreen:

Everything happens for a reason, kan? So does this street robbery. Cuma saya juga gak tahu “that little thing that triggers this” karena gak bener-bener tinggal di sana. Kalo menurut Om Gladwell, epidemi (ya, sebut saja street robbery ini epidemi) peka terhadap kondisi dan situasi dalam kurun waktu serta tempat epidemi yg bersangkutan terjadi. Mundur ke 4 tahun ke belakang, terakhir kalinya saya tinggal di Tangerang, kasus perampokan di jalan gak nyampe segininya. So, there might be something leads to this chaos. And it’s possible to which the trigger as something really small.

Di bukunya Om Gladwell tersebut diceritakan mengenai tingkat kriminalitas di New York City pada tahun 1984, yaitu maraknya pemalakan di kereta bawah tanah. Saat itu merupakan tahun terburuk bagi tingkat kriminalitas yg memuncak pada tahun 1990. Tepat setelah mencapai puncaknya, secara ajaib tingkat kriminal menurun drastis: kasus pembunuhan berkurang hingga 2/3 nya, dan tindak kejahatan maupun kekerasan hanya tinggal separuhnya. Long story short, hal tersebut merupakan hasil dari sebuah perubahan yg mungkin bagi setiap orang sepele, tapi tidak bagi direktur urusan kereta bawah tanah, David Gunn. Langkah tsb adalah pembersihan kereta-kereta dari grafiti ilegal yg dibuat oleh geng setempat dan perbaikan fasilitas lain yg berkenaan dengan itu. Menurut David Gunn, corat-coret semacam itu merupakan simbol dari keambrukan sistem.
Hal yg sama dilakukan oleh William Bratton, sang kepala polisi baru yg mefokuskan misinya untuk membasmi kebiasaan naik kereta tanpa karcis. Menurutnya, sama seperti Gunn, kebiasaan buruk tersebut menjadi pangkal dari pelanggaran-pelanggaran lain yg lebih serius. Such a petty steps yg jarang ditangkap oleh pengambil kebijakan saat itu. How a small thing could make a big difference!

Langkah kecil kedua orang tersebut tidak lepas dari buah pikiran Kriminolog George Kelling yg disewa oleh New York Transit Authority sebagai konsultan. Menurutnya, ada sebuah teori yg disebut Broken Windows dengan kesimpulan bahwa kriminalitas merupakan akibat dari ketidakteraturan. Hal tersebut kemudian diibaratkan sebagai berikut:

“Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapapun yg lewat cenderung menyimpulkan pastilah di situ tidak ada yg peduli atau bahwa rumah itu tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat, akan ada lagi jendelanya yg pecah, dan belakangan berkembang anarki yg menyebar ke sekitar tempat itu. Di sebuah kota, awal yg remeh seperti corat-coret, ketidakteraturan, dan pemalakan, semua setara dengan jendela pecah, ajakan untuk melakukan kejahatan lebih serius.”

HAH! Such a book that never stop blowing my mind.
When people say “small thing does matter”, then it really does! Terkadang yg harus diantisipasi adalah pemicu semacam ini, bukan penyebab. Hilangnya pemicu kemungkinan besar secara otomatis akan melenyapkan penyebab secara permanen. Tapi bila hanya penyebab yg dimusnahkan, kemungkinan itu hanya terjadi secara temporer. Bukan begitu?
Lalu, apa ya kira-kira hal yg jadi pemantik terjadinya kasus pembegalan itu? :\ hm hmm…

Advertisements

26 thoughts on “Kasus Pembegalan dan Malcolm Gladwell

  1. maraknya pembegalan sih ad banyak sebab ya. Bisa jadi angka kemiskinan yg semakiin naik. Atau banyaknya pengagguran (yg males kerja jadi bikin jalan pintas).. bisa jadi kbanyakan nonton sinetron yg isinya seputar materi dan kekerasan.. apapun itu bisa jadi penyebab.. bisa jadi karena korbannya? Who knows..

    Seperti kata bang napi, “kejahatan tsrjadi bukan kareda ada niat, namun juga kesempatan”.. dalam hal ini juga adanya observasi pada si korban.. hahaha

    Like

  2. Persepsi manusia memang kadang menjadi stereotipe, yang menjadi prejudice, dan gilirannya menjadi kenyataan. Mesti hati-hati dengan persepsi diri sendiri, nih :huhu.
    And yes, kejadian kejahatan jalan ini memang seperti gunung es–penyebabnya jauh lebih sistemik daripada yang kita duga, dan jumlahnya juga jauh lebih banyak.

    Like

  3. Ini aku pikir pemicunya karena kesenjangan sosial dan pemanfaatan pihak tertentu atas kesenjangan itu, jadi anak2 lulusan smp sma yang nggak punya pekerjaan tetap semacam direkrut gitu. Kalau dilihat sih awalnya sasarannya area pinggiran Jakarta yang baru berkembang, jadi kalau malam masih sepi. Semoga patroli malamnya terus berlangsung ya meski nanti kejadian pembegalan ini sudah berkurang.

    Like

  4. Mmm…baru beberapa hari lalu selama 2 hari berturut-turut aku ketemu copet di bis. Gak pernah sesering ini ketemu copet. 😦

    Menurutku bukan hanya tentang kesenjangan sosial tapi kurangnya pembekalan iman di masyarakat kita. Iya gak sih?

    Like

  5. Menarik sekali, yah. Semestinya, jika sudah melihat kasus yang semakin marak bak trend ini (btw, di tempat saya, Solo, rabu malam juga ada begal), harusnya pemerintah atau pihak kepolisian mengambil langkah yang tegas. Patroli, dll, semestinya mulai digalakkan lagi.

    Like

Let's share what you think!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s