Women’s Common Dilemma

Hidup memang tidak lepas dari sebuah dilema~ *halah
And for today’s women, “to work or not to work” is one of those things. Bekerja di sini saya batasi pada kerja kantoran dan kondisi sudah berkeluarga ya, karena hal yg sering jadi dilema adalah pada bagian “harus ninggalin anak di rumah”.

Banyak alasan beberapa wanita memutuskan untuk tetap bekerja setelah menikah dan punya anak.

Seperti saya salah satunya. Selain karena (untungnya) segala sesuatu masih bisa dikondisikan, saya masih harus berterima kasih pada negara ya melalui bekerja ini.

What do I do?
Secara jabatan, saya adalah seorang auditor. Meskipun kini sejak saya mengikuti suami, saya lebih banyak berkecimpung di dunia SDM. Auditor ngapain sih? Simpelnya, tugas pokok seorang auditor itu memeriksa, membandingkan antara kondisi dan kriteria. Audit keuangan, memeriksa apakah laporan keuangan telah disusun dengan baik dan benar sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan. Audit kinerja, membandingkan praktek kerja dengan SOP yg seharusnya. Audit program, memeriksa apakah suatu program berjalan sesuai dengan petunjuk teknis yg telah diatur. No wonder pekerjaan ini sangat dinamis, membuat saya bisa bertemu banyak orang dengan beragam persoalan dan karakter.

Jika diminta menyebutkan suka dan duka. Bisa saya bilang bagian sukanya adalah kesempatan saya pergi berbagai tempat untuk menemui para objek pemeriksaan (obrik). Sedangkan dukanya, saat muncul tantangan yg terkadang membuat hati gundah dan rasanya bisa sampai bikin pengen resign saja. Tapi saya sering berpikir, jika saya menyerah dengan keadaan dan memilih berdiri di luar, mengomentari, buat apa Tuhan mengarahkan saya pada jalan ini? I guess He wants me to do something good in here.
Mungkin di situlah letak perjuangannya, apakah apa yg saya lakukan ini bisa menjadi teladan yg baik bagi anak-anak atau tidak. Sudah seharusnya orang tua bekerja ini juga menjadi sarana pembelajaran bagi anak, mengenai banyak hal lah mulai dari membuat prioritas, mengejar cita-cita, kerja keras, kejujuran dan integritas, dsb.

Untuk cerita bagaimana profesi saya cukup sampe di sini aja yak. Selain karena saya sudah berjanji untuk gak bahas-bahas kerjaan di blog, pun dalam ceritanya bakal menyangkut banyak pihak dan instansi yg saya takutkan malah misleading…mehehe :mrgreen: Satu hal yg pasti, this profession is so intriguing yet challenging! 😎

How do I feel?
Kalo misalnya ditanya, “pernah ngiri gak sih sama Stay At Home Mom di luar sana?”. Jawabannya tentu saja, “pernah. banget. sering!”. Biasa, the grass is always greener on the other side. Kalo kayak gini, yg saya lakukan biasanya curhat sama suami. And once he said to me this:

“Bun, kita hidup di dunia ini punya peran. Aku sebagai anak, suami, ayah, dan karyawan. Ibun sebagai anak, istri, dan ibu. Kalo Ibun masih bisa dan pengen kerja, just bare in mind bahwa apa yg dilakukan Ibun di kantor itu merupakan peran/dharma tambahan yg Ibun pikul. And what comes after it, is the responsibility. Nah, salah satu bentuk tanggung jawabnya adalah dengan memberi manfaat sebaik-baiknya melalui peran tsb. Bukan malah menambah beban yg Ibun sendiri terlalu berat untuk memikulnya. Jadi, kalo masih mampu ya silakan lanjutkan. Tapi kalo ga mampu, you may leave the job. Keluarga kan memang prioritas utama.”

So ladies, intinya adalah dalam melaksanakan pekerjaan ini yg selalu menjadi pengingat dan pegangan bagi diri saya adalah saya harus memberi manfaat. Sekecil apapun peran yg saya pegang di kantor, make sure itu ada manfaatnya bagi organisasi, bagi keluarga, bagi masyarakat, syukur-syukur bagi negara, dan bagi agama.
Jika suatu saat apa yg saya lakukan ini malah memberi dan menimbulkan mudharat bagi pihak-pihak di atas, or even worse malah mendatangkan masalah yg mencoreng nama baik keluarga (Naudzubillahi mindzaalik :\ ), maka saat itu pulalah saya harus siap mundur meninggalkan pekerjaan ini.

So, to work or not to work?
Well, is that even a question now? Hahaha. Menurut saya, satu-satunya kunci yg untuk menjawab pertanyaan tsb ada pada suami masing-masing. Yes, ridho suami adalah yg utama. Setelah itu, yg gak kalah penting adalah support system yg amanah dan andal. Adanya ridho suami, tapi support system yg saya miliki meragukan, saya pun akan berpikir berkali-kali untuk bekerja.

Tapi bagi saya, yg terpenting bagi seorang wanita ini bukanlah perkara kerja atau tidak kerja, melainkan HARUS BERILMU. Sesimpel ilmu memasak, crafting, menulis, apa aja deh gak perlu patokannya ilmu-ilmu dari institusi resmi dan besar. Teruslah mencari ilmu!
Mengingat ilmu itu gak berat dibawa, pun untuk membuatnya bermanfaat gak perlu jauh-jauh. Apalagi setelah punya anak, paling deket kan ke anak sendiri. Oleh karena itulah beberapa waktu lalu, di blog ini saya sempat membuat hashtag #IbuBerilmu yg postinganya bisa dilihat di sini dan di sini. Dan taunya, eh malah keasyikan ngeblog! πŸ˜€
Harapan saya sih, kelak saya bisa membagi ilmu menulis dan per-blogging-an ini dengan si Cemplu ❀
Satu hal, saya sangat setuju dan selalu diingat salah satu quote dari teteh cantik satu ini:

Cantik kan yak? *salah fokus*

Cantik kan yak? *salah fokus*

ihb-2BMARp.s.: Tulisan ini diikutsertakan dalam MARCH’S IHB BLOG POST CHALLENGE πŸ™‚

Advertisements

19 thoughts on “Women’s Common Dilemma

  1. belum menikah dan punya anak aja aku kadang udah suka mikirin nanti kalo udah punya anak terus kerja apa engga ya. *plaaaakk hahahaha.

    semangat ya, Insya Allah peran sebagai ibu dan wanita karir sama besar pahalanya πŸ™‚

    Like

  2. bener banget mba..baik itu working mom atau engga, keduanya sama2 ga mudah dan luar biasa..

    Semangaaat para working mom, smoga setiap peluh yang kau keluarkan bisa memberikan manfaat buat semua orang.

    Like

    • Betul, menjadi ibu saja sudah luar biasa. Jangan sampai lupa sama tanggung jawab utama ya intinya hehe SAHM juga hrs semangat dan sabar dalam menjalani rutinitas, menebar manfaat dari rumah πŸ˜‰ Kedua peran tsb sama besar dan berpengaruh.

      Like

  3. Ibu adalah madrasah utama buat anak-anaknya. Jadi mau jadi working mom atau staying at home mom, berilmu untuk perempuan itu wajib, Dan tentunya ilmu yang baik dan positif :). Semangat teruuss. dan selamat udah jadi salah satu pemenang IHB challenge πŸ™‚

    Like

  4. Congratulation πŸ™‚ tulisannya menambah wawasan dari sudut pandang yang berbeda. Setuju, mau berkarir didalam maupun diluar rumah, seorang wanita khususnya seorang ibu wajib terus belajar dan berkembang

    Like

  5. Pingback: IHB March Blog Post Challenge : Winners | Indonesian Hijab Blogger

Let's share what you think!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s