Anak dan “Jangan”

Ibun: “Cemplu mau punya bayi laki-laki atau perempuan?”
Cemplu: “Puann”
Ibun: “Mau punya bayi perempuan atau laki-laki?”
Cemplu: “Akki”
Ibun: “Mau rasa stoberi atau coklat?”
Cemplu: “Otatt”
Ibun: “Mau rasa coklat atau stroberi?”
Cemplu: “i – i”

Yak, sejauh ini Cemplu (20 bulan) kalo ditanya jawabannya gak jauh dari kata terakhir yg dia denger. Gak selalu sih, but most of the time! Saya yg nanya ujung-ujungnya cuma mesam-mesem karena lucu campur bingung. Ada kalanya dia jawab hal yg emang dia pengen/pilih, terlepas dari kata terkahirnya apa. Tapi itupun kalo pas dia emang bener-bener pengen. Kalo keadaannya lagi biasa aja, ya gitu deh jawabannya semi ngasal sekitar yg terakhir dia denger aja.

Menurut Mbak Vera Itabiliana, Psikolog Anak dan Keluarga, di usia tersebut hal semacam itu emang wajar terjadi. Hal ini sedikit banyak dipengaruhi oleh kemampuan menyimpulkan mereka yg belum sempurna. Di sinilah peran orang tua yg sebaiknya menyederhanakan kalimat dalam memberi instruksi atau memberi tahu sesuatu. Pernah denger kan soal yg gak boleh bilang ‘jangan’ sama anak? Yg katanya justru anak malah melakukan sebaliknya? Bisa jadi hal tersebut juga simply karena yg lebih ditangkep anak itu kata terakhirnya, instead of si “jangan”-nya itu tadi.

Terus gimana dong, gak boleh bilang “jangan” gitu? Ah ribet!

Dan itu kan udah cuma tinggal 2 kata, mau disederhanakan apa lagi??

Menurut saya sih, gak mengharamkan kata “jangan” juga. Tapi lebih menyederhanakan kalimat, misal dengan mencari kata/kalimat lain sebagai alternatif. Ribet? Yah… namanya punya anak, ga ada rasanya yg gak ribet yes? 😆 Tinggal mikir dikit lagi doang. Anggap aja challenge buat diri sendiri buat nyari padanan kata. Misalnya, daripada bilang “Jangan Lari” yg bikin mereka malah tambah ngebut larinya, coba ganti kata “Jalan”, “Nak..jalan aja, nak..!”. Hopefully, si anak bakal cepet ngertinya: yg tadinya lari jadi jalan. Itupun kalo anaknya gak usil sih, kalo usil ya so pasti dia malah tambah ngacir sambil cekikikan. *trolling level kids* 😎

Tapi terlepas dari itu semua, Chill Out~~

Gak perlu too tense nyari kata/kalimat pengganti. Sekalinyapun si jangan tetep kesebut karena refleks, yo wis lah… tinggal tambahin sabar aja kayak biasa. LOL!

Pencet terooos, ampe lubeeerrr~

Pencet terooos, ampe lubeeerrr~

Kayak gambar di atas ini, doi lagi seneng mencetin dispenser sampe airnya tumpeh-tumpeh. Dari sini saya ngerasa mode child lock pada water dispenser itu penting gak cuma buat air panasnya aja lho. Kalo air dinginnya gak bisa dikunci ya beginilah jadinya. Dan setelah dipraktekan, ternyata memang dia lebih cepet nurut berhenti mecet tombolnya kalo saya bilang, “Udah….udah.. penuh gelasnya ya. Minum… ayo diminum airnya…minuummm” daripada “Jangan dipencet…eh…jangan dipenceeett”.

Meskipun pada prakteknya sih kalimat yg diucapin pake caps lock:

“Udah….udahh… UDAAAHHH! Minumm…ayo minum airnya… MINUUUMMMM!!”
hahahahaha…syabaaarrr~~ :mrgreen:

So yes, raising kids is ultra challenging. Ibarat main game, makin ke sini tingkatan sabar yg dibutuhin makin tinggi dan perlu strategi buat “ngakalinnya”.

And by the way, seneng banget 2 hari berturut-turut di minggu kemarin ketemu Mbak Vera sebagai narasumber di 2 event yg berbeda. Selain bisa dapet ilmu baru, juga bisa curcol tentang anak dan perkembangannya ^^’ Yang dibahas banyak! Mulai dari soal tumbuh kembang, kemandirian, pengendalian emosi, sampe pro kontra ngajarin anak bi-lingual pada usia balita. Maybe I’ll post each of them differently next time 😉

Advertisements

37 thoughts on “Anak dan “Jangan”

  1. Makasih ilmunya Nad. Kami berusaha bangetmengurangi kalimat larangan dan negatif. Kayak jangan loncat-loncat kami ganti bisa duduk? Kalo dibilang gak bisa kami jawab lagi belum capek? Bisa tenang? Kan mau ini atau itu. Cuma kalo sesuatu gang bahaya langsung kami bilang jangan sambil jelasin konsekwensinya. Kayak jangan pegang sumber listrik karena bla bla bla. Yatapi itu tadi seperti dirimu bilang Nad. Bahasanya disimplify sesimpel mungkin.

    Like

    • Iya kalo yg bahaya-bahaya langsung nyerocos. Biasanya setelah ngejauhin dia dari yg bikin bahaya itu, aku sebutin kata kuncinya aja sambil diperagain. Misal, gunting, tajem, sakit, sambil diperagain sakitnya gimana. So far dia agak bengong sih..hahaha

      Like

  2. Susah Nad cari kalimat pengganti “jangan” hehe. Saya pakai bhs Indonesia ke anak, khusus kata “jangan” pakai bhs Jerman. Tiap kali saya melarang sesuatu saya bilang “nein”, ga dengar juga dua kali ngomongnya, “nein, nein!” sambil geleng2 kepala, sejauh ini anakku jadi ngerti kalau dilarang, dan dia akan ngikut ngomong “nein, nein!” sambil geleng kepala dan ketawa-tawa. Kedepannya saya akan berusaha mengurangi kata jangan 😉 .

    Like

  3. Belakangan saya baca2 artikel jg mbak, terkait kata jangan… ada perbedaan pendapat.. hm…kalau menurut saya pribadi, mendidik anak dengan kata2 “jangan” bukanlah hal yg tidak baik. Justru Allah mengajarkan demikian. Sebagaimana di dalam al Qur’an, ketika Lukman mengajarkan anaknya. “Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, JANGANlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.[QS. Luqman: Ayat 13] banyak contoh ayat2 lain tentang cara mendidik anak di dalam al quran. Kalau mbak punya aplikasi alquran di mobile phone, mba bisa search kata “jangan”. Sebagai sesama muslim, smg kt senantiasa mengingatkan.. terlebih terkurang wallahu’alam mbak 🙂

    Like

    • Waah,,,terima kasih Mas, sudah mengingatkan. Tentu dalam mendidik anak perlu lebih banyak referensi ya, terutama Al-Quran.
      Saya setuju, mungkin saya hanya ingin menjelaskan sedikit hal mengenai pola pikir anak di usia batita. Seperti yg saya bilang di atas, sama sekali tidak mengharamkan kata jangan. Hanya saja di usianya yg masih 20 bulan, dengan kemampuan berpikirnya yg masih sederhana, saya mencoba untuk menyederhanakan instruksi juga.
      Kelak ia dewasa tentu gak masalah saya mempergunakan kata jangan.

      Liked by 1 person

      • Bener banget mbak… apapun masalahnya referensi tetep balik ke quran dan sunnah ya kan? Hehe. Sama2 mbak…hhe

        Tapi kalau menurut saya juga sih, justru usia anak yg masih dini adalah usia emas bagi perkembangan otak anak. Dengan stimulus2 sederhana anak akan lebih mudah memahami sampai dewasa. Jika baru dimulai sejak usianya sudah lebih lanjut, maka akan lebih sulit.

        Terlebih lg, usia 18-24 bulan adl usia dimana anak akan belajar memahami kata dan mulai merangkai2nya menjadi kalimat. Di buku pediatrik Nelson juga dijelaskan, anak usia demikian akan belajar proses “internalisasi”, yaitu kemampuannya menahan diri dari hal2 yg diinginkan. Dia akan belajar mengendalikan diri dengan kata “jangan”. Bahkan di buku ini juga dijelaskan, “ketika anak tergoda untuk menyentuh obyek yg dilarang, mereka mungkin berkata pada diri sendiri, “jangan, jangan”. Bisa dikatakan, usia 18-24 bulan adl masa emas anak untuk belajar mengontrol diri. Jika anak tidak bisa menahan dirinya utk menyentuh benda2 yg dia inginkan, itu menandakan adanya hambatan relatif dari kekuatan internalisasi tsb.

        Wallahu ‘alam mbak. Mungkin hanya sedikit sharing. Karena kebetulan saya juga pernah belajar di bidang tsb. Hehe… smg bs jd bahan diskusi yg menarik ya 😀

        Like

      • Setuju!
        Wah, luar biasa penjelasannya komprehensif. Terima kasih sudah disharing insight-nya di sini. Anakku jg gt sih, pernah aku liat dia mo masukin mainan ke mangkok makanannya trus dia bergumam-gumam sendiri “janan, janan” mungkin itu termasuk dari proses internalisasi itu ya 🙂
        Sebenernya bukan mendiskreditkan kata “jangan”, ini hanya alternatif dalam menyampaikan sesuatu pada anak.

        Liked by 1 person

  4. Ah, aku jadi paham sekarang kenapa sering lihat anak kecil dilarang malah melakukan yang dilarang tersebut. Karena kebanyakan mendengarkan kata belakangnya ya. I see. Thanks Nad buat infonya. Jadi orangtua beneran musti kreatif ya.

    Like

  5. Mesti sedia stok kesabaran ya, Mbak, karena anak-anak bukan orang dewasa mini, butuh cara tersendiri supaya mereka bisa paham 😀 ditunggu sharing2 yang lainnya, Mbak Nad 🙂

    Like

  6. Hahahah Cempluuuu’! Lucu banget, sih.

    Aku susah banget nggak pake kata ‘jangan’ loh. Jadi setiap kelepasan jangan, selalu kasih alasannya. Gitu terus hehehehe ribettt kalo buru-buru dan bahaya beneran *lap jidat*

    Like

  7. Hehehe, sulitnya jadi orangtua ya. Pemilihan kata-kata dan kalimat pun penting 🙂 . Tadi aku kira jangan memilih kata “jangan” karena ada hubungannya sama kata-kata yang bernuansa negatif gitu *overthinking ceritanya 😀 *

    Like

  8. hihihii.. si bayik mbak nad, usilnya ampun..misal kita mau jalan naek motor, dia mau sambil bawa mainan, kita bilang “Ditinggal aja yaa,, soalnya nanti kalau jatuh di jalan amoranya sedih” … Lalu apa yg terjadi? taraaaa mainannya dlempar, trus dia bilang “jatoooh” trus dia kasi muka sedih T.T
    #curhat

    Like

Let's share what you think!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s