Kaleidoskop Menyusui: Desember 2013 – 2015

Akhirnya sampai juga di bulan Desember 2015. Bulan di mana si kecil Cemplu akan genap berusia 2 tahun. Ya, akhirnya tiba juga di penghujung masa menyusui. Sudah waktunya usaha-usaha untuk menyapih ini dilakukan lebih serius. Dua kata: Gak nyangka! ⭐

Kalo saya flashback ke bulan Desember 2013 saat Cemplu lahir dan harus disusui, saya merasa pesimis soal menyusui. Melahirkan di klinik yg tidak pro normal, tidak pro IMD, dan tidak pro ASI membuat mental saya untuk menyusui jatuh. Melahirkan melalui operasi sesar tanpa IMD setelahnya membuat saya merasa awkward saat pertama kali mendekap Cemplu. Ditambah dengan kekurang-“melek”-an saya terhadap seluk beluk menyusui dan ASI, pada akhirnya berujung ke pemberian sufor di hari-hari pertama Cemplu.

ASI saya baru keluar di hari ketiga, itupun sedikiiiit sekali. Kalo bukan karena dukungan suami, mungkin cerita kaleidoskop ini akan berhenti di titik itu. Bisa dibilang masa-masa awal menyusui Cemplu bagi saya sangatlah berat. Rasanya kok ga seromantis yg ada di gambar-gambar iklan itu ya? ❓ Meriang karena payudara bengkak, puting lecet, ASI yg pas-pasan, badan yg rasanya masih babak belur, dan begadang membuat saya berpikir bahwa 2 tahun itu waktu yg panjaaaaang sekali. Tapi nyatanya seiring waktu berjalan, 2 tahun jatuh bangun pumping-menyusui dan menemukan support group ibu-ibu laktasi di kantor, membuat 2 tahun itu pada akhirnya terasa singkat. Suwer! Time flies when you’re having fun, right? 😉 Begitulah sisa perjalanan menyusui yg saya dan Cemplu jalani dengan penuh suka cita. Romantisnya pun akhirnya terasa ❤ hehe. Tapi ya itu, it takes time, learning process, and commitment.

Salah satu kesalahan saya dalam menyusui adalah menyepelekannya. Saya menganggapnya terlalu alamiah sehingga saya pikir gak perlulah dipelajari. Tinggal “lep” aja gitu, kan? 😛 Tapi ternyata salah besar. Oleh karena itu, pengalaman menyusui selama 2 tahun ini mengajarkan saya bahwa menyusui itu ada ilmunya dan perlu dipelajari. Dengan mengetahui ilmunya, saat kita menghadapi kesulitan maka kita akan tahu cara mengatasinya. Sadar saya udah ketinggalan banyak, sejak saat itulah saya baca sana-sini dan nanya sana-sini sambil rasanya pengen noyor diri sendiri 😀 Karena keterlambatan itulah saya pun akhirnya telat bikin stok ASIP. Yang seharusnya dimulai sesegera mungkin sejak bayi lahir, saya baru nyetok 2 minggu sebelum masuk kerja. Hal itu berbuntut kejar setoran ASIP tiap harinya. Fiuuhh… *lapkeringet*. Kelak dapet amanah anak kedua, tentu kedodolan ini gak boleh terulang lagi ^^’

photo-2

ASIP Pertama Saya. Girang banget rasanya!

Pelajaran kedua yg saya dapat dari menyusui ini adalah bahwa sehat itu wajib! Sebelum punya kewajiban menyusui, bisa dibilang saya cenderung asal-asalan menjaga pola makan dan kesehatan. Sering deh maag kambuh karena pola makan yg berantakan. Setelah punya anak dan menyusui, saya sadar kalo saya sakit yg kena ruginya gak cuma saya sendiri, tapi juga anak yg nutrisinya masih tergantung sama puting ibunya ini 🙂 Oleh karena itu, selama menyusui ini saya jadi lebih disiplin dalam menjaga pola makan dan kesehatan. Meskipun ya masih kurang olahraganya siih 😛 , tapi setidaknya sejak punya anak ini lebih jarang sakit daripada sebelumnya. Pun kalo sakit, saya lebih menerapkan Rational Use of Medicine (RUM) karena takut ada kandungan yg mengganggu produksi ASI. Semoga saja hal-hal semacam ini dapat saya pertahankan meskipun kelak sudah menyapih.

Last but not least, hal ketiga yg saya pelajari dari menyusui adalah soal komitmen. Menyusui itu perlu banget komitmen. Apalah artinya ilmu dan ASI yg melimpah ruah kalo si ibu gak punya komitmen untuk menyusui. Merasa beruntung karena diamanahi ASI oleh yg Maha Kuasa tentunya jadi pengingat bagi saya untuk berjuang menyusui hingga 2 tahun. Banyak juga kan ibu yg ingin menyusui anaknya, namun terhalang oleh indikasi medis sehingga ASI-nya tidak keluar? Oleh karena itu, menyusui hingga tuntas juga bisa jadi cara kita untuk bersyukur pada Alloh SWT.

photo

Buku yg menambah semangat saya dalam menyusui. Inspiratif, bahwa tidak semua perjalanan menyusui itu sempurna.

Sejauh ini, kalo ditanya pengalaman yg paling berkesan, bagi saya adalah saat mengikuti workshop di salah satu kantor anti rasuah. Terkait sistem pengamanan yg ketat di kantor tsb, saya harus pumping dengan ditunggui salah satu panitia. Untuk bisa masuk ke ruang laktasinya saja harus melewati beberapa pintu dengan kode pengaman. Jadi kalo ditinggal, yaudah deh saya gak bakal bisa pulang, mau selfie-selfie pun gak berani jadinya, hahaha. But it’s worth it, karena saya masih bisa memenuhi target ASIP di hari itu meskipun waktunya mepet dan menegangkan.

So, how would the weaning be? Apakah akan jadi Extended Breastfeeding ataukah Weaning with Love, ato malah Mother Led Weaning, mungkin? Entahlah… Rasanya saya sendiri juga belum siap mengakhirinya karena sejauh ini belum menemukan metode untuk menenangkan anak menangis yg lebih ampuh dari menyusui. LOL. Tapi yah, bagaimanapun harus siap. Doakan kami yak 😀 SEMANGAT !

1450862191673-1

Ibun Sayang Cemplu ❤

Hal lain soal menyusui, saya pikir jaman sekarang lebih enak karena mulai terlihat banyak kemudahan bagi ibu menyusui. Adanya support group seperti AIMI, himbauan penyediaan nursing room di kantor/tempat umum, banyaknya breastpump di pasaran, dan cantik-cantiknya baju ibu menyusui di HijUp.com, hopefully akan semakin memotivasi para ibu untuk menyusui. Dengan adanya baju ibu menyusui yg keren dan trendy tentunya bikin semangat buat menyusui dong ya! Siapa bilang busui gak bisa pake baju gaya? 😎 Dan semoga kemudahan-kemudahan tersebut juga bisa diperoleh secara merata di seluruh Indonesia. Karena saya yakin, setiap ibu berhak atas dukungan tersebut.

 [Tulisan ini diikutsertakan dalam Laiqa Magazine,  HijUp.com, dan The Urban Mama Mother’s Day Blog Competition]

blog-competition-2015

Advertisements

14 thoughts on “Kaleidoskop Menyusui: Desember 2013 – 2015

  1. Semoga berhasil Mbak dengan prosesi menyapihnya… duh perjuangan seorang ibu memang berat banget ya. Ngebayangin harus jatuh bangun supaya bisa tetap menyusui buah hati yang pastinya nggak mudah, aaaak salut saya banget pada dirimu dan semua ibu di dunia. Dulu ibu saya juga pasti jatuh bangun banget deh menyusui saya :huhu.
    But eventually, everything should come to an end. Semoga berhasil dengan kompetisinya, semoga menang!

    Like

  2. Pingback: Dua Tahun: Teruslah Tumbuh dengan Cinta ya, Nak! | NADCISSISM

Let's share what you think!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s