Beli Rumah Second di Jabodetabek? Perhatikan Hal-Hal Ini!

The magic thing about home is that it feels good to leave, and it feels even better to come back. ~Wendy Wunder

Ada yg bilang kalo beli rumah itu jodoh-jodohan. Awalnya sih gak percaya, kan tinggal pilah-pilih sesuai kriteria trus transaksi, yekan? Tapi layaknya mencari jodoh, ternyata gak segampang itu. *ceilaaaaahh~ Ya bisa aja sih, dateng ke kantor agen properti, trus bilang mau yg kayak gimana, dan tadaaa! Idealnya emang kayak gitu, tapi biasanya perjalanan ampe akhirnya kamu menetapkan hati pilih agen properti yg mana itu penuh drama dan dilema. Apa lagi kalo kerja di Jakarta yg everybody-knows urusan papan ini ada opportunity cost yg mesti diambil. Deket tapi duit gak cukup, jauh tapi abis waktu. LOL. Life is a choice indeed, to its pettiest stuff there is.

Nah kalo saya pribadi, tiga hal yg jadi pertimbangan saat beli rumah di Jabodetabek ini:

1. Lokasi

Lokasi ini udah pasti daerah mana, lingkungannya gimana, kondusif engga buat perkembangan anak, keamanannya, probabilitas kenaikan nilai rumahnya, dsb. Soal lokasi ini biasanya yg bikin para pemburu rumah ini mesti practically keliling-keliling daerah yg dia mau. Seolah keliling-keliling itu sebuah syarat biar dapet rumah yg cocok, tapi biasanya emang banyak juga rumah yg oke tapi gak dipasarin di internet. So, goodluck with that!

1d45fc308771989fd4f64309ad588a85

Courtesy: pinterest.com

2. Transportasi

Setelah dapet lokasi yg cocok, mulai deh ke tahap selanjutnya: kalo ngantor gimana? Udah jadi hal yg umum buat orang Jabodetabek kalo transportasi ini salah satu issue dalam memilih hunian. Lokasi rumah yg bagus ga selalu punya akses yg banyak. Pilihan yg ada biasanya akses tol, deket stasiun, deket terminal, atau ketiganya. Tergantung pilihan masing-masing nyamannya ngantor pake apa, umum ato pribadi. Pertimbangan akses transportasi ini penting karena menyangkut biaya transportasi bulanan yg bakal keluar dan waktu yg dihabiskan di jalan. Either time or money or energy you’d like to save, you decide.

3. Kondisi

Baru atau 2nd? Baik baru ataupun 2nd, keduanya punya plus minus yg relatif. Rumah baru biasanya kerasa lebih puas, tapi rumah 2nd juga bisa ngasih kelebihan yg ga ada di rumah baru. Beberapa rumah 2nd yg dijual dalam kondisi prima bisa lebih menguntungkan daripada beli rumah baru yg bahan dasarnya asal-asalan. Adapun beberapa hal yg bisa jadi masukan kalo nyari rumah second adalah:

Sejarahnya

Saya ini orangnya agak parnoan sebenernya, jadi soal sejarah rumah ini penting banget buat diketahui. Mulai dari sejarah status kepemilikan, alasan dijual, termasuk riwayat renovasi (barangkali udah pernah beberapa kali).

Statusnya

Sertifikat Hak Milik (SHM) atau Hak Guna Bangunan (HGB) atau lainnya? Ini bisa jadi masukan buat perhitungan biaya persuratan saat ke notaris nanti. Misal rumahnya masih HGB, kalo mo dijadiin SHM, tentu ada biaya tambahan. Terus apakah PBB-nya rutin dibayar apa engga, dsb. Makin lengkap status dan persuratannya, bisa jadi makin sedikit biaya tambahan yg keluar saat mengurus Akta Jual Beli (AJB). Nah kalo status kepemilikan si penjual ini ga jelas, hal ini masih bisa diselesaikan asalkan sabar mengikuti tiap prosesnya.

Kondisinya

Ini sih itung-itungan bandingin kalo beli yg baru atau 2nd. Perlu diinget ya rumah baru itu kualitas bangunannya gak selalu oke, tergantung yg bangun/pengembangnya. Jadi ya dikira-kira aja dengan kondisi bangunan seperti itu pantes apa engga dengan harga yg ditawarkan. Seperti yg udah disebutkan di atas, beberapa rumah 2nd terkadang lebih menguntungkan kalo soal kualitas bangunan. Terutama kalo pemilik sebelumnya itu cukup apik menjaga kondisi rumah.

Selain itu, rumah 2nd yg dijual dalam keadaan fully furnished, untuk newlyweds ato keluarga dengan anak 1 itu bisa jadi menguntungkan. Furnitur dan perabot lain yg masih layak pakai bakal mangkas biaya “isi” rumah yg bakal keluar kemudian. Kasarnya, rumah ga akan kosong-kosong bangetlah gitu. LOL. Bahkan nih, untuk perabot yg masih oke tapi kurang cocok sama selera kita, bisa kita jual dan jadi tambahan buat beli furnitur yg kita mau 😛

Cash or KPR?

Untuk masalah pembayaran ini, yg harus diperhatikan saat beli rumah 2nd adalah nama pemilik pada sertifikat kepemilikan saat ini. Kalo sudah beratas nama pemilik sekarang sih rasanya ga akan ada masalah pas proses pembayaran nantinya, baik secara cash maupun KPR. Tapiiii… kalo mau KPR dan ternyata pemilik sekarang ini (pemilik de facto) pun bukan tangan pertama plus sertifikatnya masih atas nama pemilik sebelumnya, siap-siap aja prosesnya bakal lebih panjang terutama kalo milih pembayaran secara KPR.

Kok bisa? Karena pada umumnya, pembayaran dari bank secara KPR ini ditujukan kepada nama yg tertera di sertifikat kepemilikan (pemilik de jure). Jadi pada akhirnya, transaksi itu antara kita dan pihak yg namanya ada di sertifikat (meskipun dia bukan pemilik de facto saat ini). Mending kalo orangnya masih ada, kalo engga? Tau deh…

Kalo pemilik de jure-nya masih ada, jalan keluar untuk kondisi seperti itu biasanya ada tiga:

  1. Kalo pemilik de jure kooperatif, biasanya tetap dilanjutkan melalui KPR. Cara ini membutuhkan kepercayaan yg kuat antara pemilik de facto dan pemilik de jure karena urusan selanjutnya ada di kedua pihak tersebut. Uang dari bank masuk ke rekening pemilik de jure, kemudian ia harus menransfer uang tsb ke pemilik de facto. Perubahan nama di sertifikat pun langsung dari pihak de jure kepada kita (pembeli). Pemilik de facto itu hanya berperan sebagai saksi aja.
  2. Kalo pemilik de facto merasa insecure dengan solusi no. 1 dan siap ribet, tentu dia mesti ngurusin surat pengalihan kepemilikan dari pemilik de jure (heaven knows kenapa ini ga dilakuin dari dulu-dulu). Setelah pemilik de facto kini jadi pemilik de jure, proses KPR baru deh bisa dimulai. Cons untuk kita si pembeli tentunya waktu transaksi yg lebih panjang ~
  3. Sedangkan kalo pemilik de facto merasa insecure dengan solusi no. 1 dan gak mau ribet, dia bakal pilih transaksi secara cash aja. Lah tapi duit kita gak cukup, piye? ya sudah, batal. LOL 😀 Engga ding, bisa dengan cara KPR refinancing. Jadi sistemnya pembeli bayar secara cash sejumlah duit yg ada kepada pemilik de facto. Jumlah sisa yg belum dibayar akan dilindungi dengan perjanjian utang-piutang. Setelah itu, sertifikat dialihkan kepemilikannya kepada dari pemilik de jure ke pembeli supaya dia bisa mengurus pinjaman dana ke bank. Btw, KPR refinancing itu mengagunkan sertifikat makanya mesti alih nama dulu. Mau gak mau emang tetep ada campur tangan pemilik de jure, hanya saja gak ada aliran dana yg mengalir ke pihak tsb (kecuali kalo pemilik de facto-nya baik dgn ngasi komisi/ongkos 😛 ). Setelah urusan surat beres, pembeli ngajuin KPR refinancing buat mencairkan sisa dana yg akan dibayarkan kepada pemilik de facto. Setelah pihak bank approved dan mencairkan dana, maka pembeli melunasi utang dan perjanjian utang-piutang antara pembeli dengan pemilik de facto tsb dihapuskan oleh notaris. Selanjutnya, hubungan antara pembeli dengan pemilik de facto dan de jure pun sudah selesai, tinggal pembeli melakukan angsuran ke bank sesuai perjanjian.

Mestinya alur ini emang dibikin semacam infografis gitu yak, tapi gak sempet jadi gini aja dulu lah. HAHA. Nah… kesimpulannya, cara yg paling enak yg mana? Cara yg paling enak adalah yg no.4:

Lo kumpulin duit terus beli rumah baru secara cash! Oke? Sip.

Jadi, gih nabung! 😉 😀

Advertisements

26 thoughts on “Beli Rumah Second di Jabodetabek? Perhatikan Hal-Hal Ini!

  1. Aku apa aja jadi deh Mbak, asal bisa belik rumah. Huahahah! 😀 *anaknya pasrah*

    Tapi setuju deng, harus bener bener perhatiin hal hal di atas ya. Jangan sampek ada kendala apa apa.

    Like

  2. Iya, kalau sudah menyangkut tanah semuanya perlu diperhatikan baik2 seperti yang sudah dibahas oleh Mba Nadia, makasih mba sudah sharing ilmunya…

    Like

Let's share what you think!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s