5 Hal Penting dalam Mengajarkan Anak Multilingual

Ngeliat tumpukan buku cemplu di rumah yg lebih banyak buku berbahasa Inggris, saya jadi mikir sendiri: “am I going to raise multilingual kids?“. Well, ngomongin tentang multilingual, biasanya kekhawatiran ortu adalah terkait keterlambatan bicara (speech delay) dan bingung bahasa (code switching/language mixing). Karena sekarang anak ngomongnya udah cas-cis-cus, jadi saya sih lebih khawatir ke code switching-nya ya di mana kalo ngomong takutnya campur-campur dan gak bisa pake bahasa itu dengan baik dan benar. Malah jadi setengah-setengah gitu. Nah, karena penasaran, sayapun dateng ke event-nya Mommies Daily bareng EF yg bahas tentang “Multilingual at Early Age“.

IMG_20170310_155400.jpg

Multilingual at early age, why not?

Di event itu, saya dapet informasi kalo ternyata membesarkan anak multilingual itu TIDAK menyebabkan speech delay.

Kok bisa?

Berdasarkan penelitian perkembangan bahasa oleh Naom Chomsky, bayi yg dipaparkan dari dua bahasa tidak akan mengalami speech delay. Psikolog Anak dan Keluarga, Roslina Verauli (Mbak Vera), lebih jauh menjelaskan bahwa setiap manusia itu di otaknya ada Language Acquisition Device (LAD), yaitu program yg memungkinkan manusia sejak bayi untuk melakukan analisis  dan memahami aturan dasar bahasa yg mereka dengar. Saya jadi mikir mungkin inilah kenapa bayi kalo nangis itu “oaaa…ooaaa”, bukan niru dering telepon ato bunyi mesin cuci gitu ya. LOL *abaikan 😀 Oya, karena LAD ini jugalah tangisan bayi di tiap negara itu beda-beda. Dari situlah bayi memiliki kapasitas bawaan untuk menguasai bahasa.

Mbak Vera juga menambahkan bahwa keterampilan oral pada anak itu penting bagi perkembangan bahasanya. Salah satu ciri anak yg perlu ditingkatkan motorik mulutnya adalah kebiasaaan mengemut makanan. Latihannya bisa dengan meniup lilin, peluit, makna sayur dan daging merah yg chewy.

Naaahh… kalo soal code switching ato language mixing sendiri, Mbak Vera melihat hal tersebut sebagai sebuah alternatif saat anak kesulitan menjelaskan sesuatu dalam bahasa tertentu. Dengan demikian, anak berusaha mencari padanan kata dalam bahasa lain dan hal tersebut sifatnya positif.

“Code switching atau language mixing bukan pertanda anak mengalami ‘bingung bahasa’, melainkan bagian dari proses untuk menguasai kedua bahasa dengan baik. Seiring usia, kondisi ini akan hilang dengan sendirinya.” ~Roslina Verauli, M.Psi., Psi. (Psikolog Anak dan Keluarga)

Terus, kapan ya waktu terbaik untuk ngajarin anak bahasa lain?

Menurut Thompson and Nelson dalam Laura E. Berk (2012), golden moment atau waktu yg tepat untuk mengenalkan beragam bahasa kepada anak adalah 0-6 tahun (as we all might know). Tapiii… kalopun emang serius duarius mau membesarkan anak dengan multilingual, ada lima hal nih yg mesti jadi catatan dan harus kita perhatikan selaku orang tua.

1489135947236

Tujuan

Dipikir lagi, kira-kira apa sih goal-nya mengajarkan anak beragam bahasa sejak dini? Urgent ga? Apakah memang berencana tinggal di luar negeri dalam waktu dekat? Apakah anak akan melanjutkan pendidikan di luar negeri? Ato biar kayak cinca laurah aja? Orientasi orang tua dalam hal ini penting banget supaya pada praktinya nanti gak setengah-setengah dan malah loyo di tengah jalan. Kan… sayang 😦

Bantu Anak Mendengar dan Belajar

Kalo udah yakin akan mengajarkan anak multilingual, maka selanjutnya orang tua perlu ‘hadir’ dalam proses pembelajaran tersebut. Menurut Mbak Vera, anak yg belum mencapai usia 30 bulan sebaiknya TIDAK belajar bahasa dari TV atau gadget.

“Tapi anak tetangga pinter tuh cuma nonton disney junior?”

Jadi begini, Mbak Vera bilang bahasa itu perilaku sosial, maka dalam pembelajarannya dibutuhkan interaksi aktif dengan manusia lain di gadgetnya sekitarnya. Inget ya di sekitarnya! Jadi gak cuma mesin biologis dan kapasitas kognitif aja, tapi apresiasi positif orang tua juga berperan penting dalam proses pembelajaran. Cara terbaik mengenalkan anak untuk multilingual adalah dengan membacakannya buku berbahasa asing atau melalui nyanyian. Dengan cara ini, hopefully anak akan familiar dengan bahasa tsb dan menambah pembendaharaan kata mereka.

Konsisten

Saya sempet nanya sama Mbak Aiya yg lagi tinggal di luar negeri tentang penggunaan bahasa di sana. Menurutnya, psikolog di sekolah anaknya menyarankan agar membedakan bahasa saat anak bicara. Misal, bahasa Indonesia sama ibu dan bahasa inggris sama ayah. Dengan konsisten seperti ini, anak akan lebih mudah untuk bilingual. Selain itu, dosen saya jg pernah bilang waktu beliau kuliah di Australia dan bawa anak-anaknya, beliau dikasih tahu sama homeroom teacher anaknya di sana untuk tetap berbahasa Indonesia di rumah. Pun demikian karena si anak sudah berbahasa Inggris di lingkungan daycare/sekolahnya. Dengan begitu si anak akan ber-bilingual dengan konsisten. Hal-hal semacem ini mungkin bisa dijadiin contoh penerapan continous learning saat mengajarkan anak multilingual.

Kesempatan

Setelah mengenalkan dan mengajarkan, sudah seharusnya anak diberikan kesempatan untuk menerapkan bahasa tersebut. Kesempatan tersebut bisa dengan pemisahan bahasa seperti di poin 3 dan tetap mengapresiasi perkembangan bahasa mereka. Jangan sampe dimasukkin tempat kursus, tapi di rumah enggan diajak latian sama anak. Pun saat mengoreksi anak jangan ampe bikin mereka jadi takut buat nyoba lagi.

Phonic itu penting!

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), fonetik adalah sistem bunyi suatu bahasa. Dalam pengenalan bahasa asing di usia dini, ada baiknya jika kita mengenalkan dasar linguistik satu ini pada anak. Dengan memahami fonik, anak akan dapat membaca, mengucapkan, dan menuliskan kata dengan baik dan benar. Pengenalan fonetik bisa dengan menunjukkan gambar suatu benda dengan nama benda tsb di bawahnya. Orang tua mengucapkan kata tersebut sambil menunjuk benda dan memperlihatkan bentuk tulisannya. Selengkapnya tentang mengajarkan phonic pada anak bisa disimak di video ini ya! Bagus banget lho videonya 😉

So, multilingual: yay or nay?

Saya sendiri sudah ber-bilingual dengan cemplu nih, tapi dengan bahasa daerah alias bahasa Sunda. HAHAHA. Bagi kami, bahasa Inggris masih jadi bahasa ketiga yg selama ini hanya saya kenalkan melalui buku-buku, mainan, dan lagu nursery rhymes. Pernah dia kenal disney junior 3 bulan. Itupun karena dapet gratisan pas masang jaringan Wifi  di rumah 😛 Abis itu gak kita perpanjang lagi saluran TV-nya lebih karena alasan habit aja sih. Saya pikir cukuplah dengan banyaknya buku-buku berbahasa Inggris di rumah.

Bagi yg ingin memulai, saya ucapkan selamat dan semoga sukses ya! Dan bagi yg masih mau menguatkan bahasa ibu, juga semangat terus 😉 Yang terpenting adalah tetap mengajarkan anak bahasa sesuai kebutuhan dan jenjangnya sehingga kelak ia dapat menggunakan bahasa tersebut dengan baik dan benar dalam kehidupan sehari-hari.

Adakah yg sudah ber-multilingual dengan anak dan mau sharing di sini? Saya tunggu di comment box ya 😀

Advertisements

32 thoughts on “5 Hal Penting dalam Mengajarkan Anak Multilingual

  1. Jadi inget pembicaraan dengan supir ojek online semalam mbak Nadia. Dia kerja di keluarga berada. Anaknya malah gak bisa bahasa Indonesia sama sekali. Malah bisanya bahasa inggris. Ini gimana ya mbak? Apakah ada salah kaprah dalam penerapan pengajaran ke anaknya ya?

    Like

    • Tergantung sih, Mas. Kalo memang itu yg diharapkan keluarganya ya gak masalah. Tiap keluarga punya visi masing2 kan anaknya mau diarahkan seperti apa. Kalopun begitu mungkin memang sedari kecil mereka ga menekankan penggunaan bahasa Indonesia.

      Liked by 1 person

      • Kmarin itu si anak jadi diikutkan les bahasa Indonesia akhirnya. biar paham. aku sendiri sih dukung belajar bahasa asing sejak kecil tapi ya… bahasa Indonesianya gak dilupakan aja sih.

        Like

      • Kalo saya, setuju sama Mas 🙂 Saya mengutamakan bahasa Indonesia dulu, baru bahasa lain seperti yg saya sebutkan di atas karena ga ada urgensi penggunaan bahasa Inggris di rumah maupun lingkungan luar. Nah, kalo keluarga lain sih saya ga berani menilai karena ga tau mereka seperti apa 🙂 Mungkin mereka memang milih bahasa utamanya bahasa Inggris, makanya diajarin duluan. Sedangkan bahasa Indonesianya yg jd 2nd language sehingga diajarin belakangan. Imho.

        Liked by 1 person

  2. Saya termasuk orang tua, di mana saat anak saya hampirrr mengalami delay speech & bingung bahasa. Saya mengalaminya dan segera memutuskan langkah yang tepat untuk anak saya sesegera mungkin. Ada beberapa poin yang saya sepakat namun ada beberapa yang menurut saya tidak sesuai dengan realita.

    Like

      • 1. Statement dari psikolog ternama di acara itu tentang code switching bukan pertanda bingung bahasa. Saya alami sendiri itu amat berpengaruh. Setelah saya masukkan anak ke playgroup yang memang bahasa pengantarnya Indonesia. Tidak sampai sebulan, Alhamdulillah lancar bicara. Entah gimana jadinya kalau gak segera ambil tindakan.

        2. Ortu beda bangsa maka mendidik anak dengan bahasa ibu masing2. Untuk sesekali masih masuk akal, tapi untuk keseharian, gak mungkin seintens itu. Maksimal paling ngerti aja tapi gak bisa ngomongnya.

        Liked by 1 person

      • Wah, menarik mbak sharingnya 🙂 Makasi ya… ini bisa jadi referensi lain untuk pertimbangan mengajarkan anak multilingual. Yg saya tahu memang multilingual dan speech delay ini juga masih jadi perdebatan di kalangan psikolog karena pernah denger statement yg berlawanan dengan psikolog yg saya ulas di atas.

        Liked by 1 person

  3. Aku sm suami sepkat bwr ngenalin si kecil dua bhs sludi golden age ini, indonesia jg inggris. Alhmdllh kosa katanya udh cukup bnyak,
    Tengkiu sharenya mbk,jd tw klok ngenlin bhs slain bys ibu tdkmnybbknsp

    Like

  4. Wah bermanfaat bgt mba sharingnya. Kbetulan saya lagi Hamil Dan nanti rencana pengen ngenalin bhs inggris sejak kecil. Tapi msh bingung sih baiknya dr usia brp… Karna menurut saya bhs inggris ini penting buat ke dpan

    Like

  5. Dulu ada anak tetangga sebelah rumah yg lebih tua setaun dr anak saya. Diajarinnya lgsg tiga bahasa, indonesia, inggris, sama melayu/malaysia. Salah satu ortunya mmg org malaysia. Tapi kasian, di umur yg hampir 5 taun blm lancar ngomongnya. A a a u u aja. Sambil nunjuk-nunjuk doang. Sampe sering dimarahi, “ngomong atuh, jgn nunjuk-nunjuk gt”. Entah ini apakah akibat diajarin 3 bahasa sekaligus atau mmg kemampuan dasar komunikasi si anak yg mmg kurang. Wallahualam.

    Like

    • Tentang speech delay ini, saya juga sama awamnya sama mas, makanya yg saya tulis di sini berdasarkan informasi yg saya dapat dari salah satu psikolog dan hasil penelitian yg beliau paparkan. Sering juga sih saya denger keluhan speech delay ini, baik dari ortu yg monolingual maupun bi/multilingual.
      Perihal pengenalan bahasa yg banyak dan membingungkan bisa jadi berkontribusi di speech delay ini, tapi mengingat ada orang lain yg berhasil dan juga yg speech delay meski ga diajarin multilingual berarti ada faktor lain pada anak sehingga mengalami terlambat bicara. Di kalangan psikolog sendiri saya pernah denger pendapat berbeda ttg ini. Wallahualam, namanya ilmu pasti berkembang ya^^ Mungkin setelah ini ada hasil penelitian lain terkait speech delay dan multilingual yg bisa dikaji.

      Liked by 1 person

  6. Halo Nadia dan Cemplu! 😊
    Karena sekarang aku sedang tinggal di Australia, mau nggak mau anakku si Bocil multilingual. Awal datang (3th) dia sama sekali nggak bisa berbahasa Inggris. Jujur karena memang aku dan suami sepakat untuk mengajarkan 1 bahasa aja (bahasa Indonesia). Karena dulu keyakinan kami, kalo bahasa Ibu udah kuat pondasinya, akan lebih mudah untuk masukin bahasa lain. Setelah tinggal disini, lama2 bocil belajar dengan sendirinya.. ada satu “kesalahan” yang aku sama suami lakuin. Saat bocil udah fluent bahasa inggrisnya, kami berkomunikasi sama dia dengan bahasa Inggris juga. Jadi pernah ada satu titik dimana si Bocil “lupa” bahasa Indonesia, bahkan logatnya cincha lawra.. sumpedeeehh.. :’)). Dia bener2 menolak komunikasi dengan bahasa Indonesia. Akhirnya saat parents-teacher conference, saya sampaikan soal ini sama gurunya. Gurunya bilang bahwa si Bocil itu memilih bahasa yang paling banyak dia dengar untuk dijadikan bahasa utama. Singkat cerita, dia menganjurkan kami untuk “menjaga bahasa Ibu” dengan cara tetap berkomunikasi dengan bahasa Indonesia selama di rumah. Maka akan terbentuk di pola pikir anak bahwa: di luar rumah–bahasa inggris. Di rumah–saatnya pakai bahasa indonesia. Pelan2 berhasil lho, sekarang logat cincha lawra nya udah hilang. Ngomong juga pakai bahasa Indonesia, yah.. walau porsi bahasa Inggrisnya lebih banyak sih tetep. Terus banyak kosakata yang kebalik2 kaya pesawat jadi sepawat.. misal begitu. Widihhh maap ya panjanggg komennyaaaa :)))

    Like

    • aaakkk thank you sharingnya, mbak dila! :* wow, jadi “anak memilih bahasa yg paling banyak dia dengar untuk dijadikan bahasa utama” ya. sipsipp… Kalo dari kondisi mbak itu kayaknya berarti kalo mau bilingual itu emang mesti dipisahkan ya 🙂 Syukurlaah kalo sekarang dia udah bisa jalan kedua bahasanya, keren!

      Rasanya usia 3 taun itu mungkin yg paling pas utk belajar bahasa asing setelah dia bisa bahasa ibu ya?

      Liked by 1 person

      • Iyaaa kalo di kasus anakku gitu bu Nad hihihi. Yup, di pisah dan biarkan otak anak menyeleksi. Thats why ortunya mengkondisikan aja.. dengan berbahasa Ibu di rumah (misalnya). Disini aku suka lihat (karena Australia kan multiculture yah, semua ras ada deh kayaknya). Anak ngobrol sama orang2 pake bahasa Inggris, begitu dia ngomong sama ortu nya langsung switch jadi bahasa Ibu nya (entah Viet, Pakistan atau lainnya). Seru kan ya.. otaknya langsung merintah sendiri untuk ngomong bahasa apa yang sesuai. Tapi jujur untuk aku sendiri juga belom bisa se “perfect” itu hehehe/..

        Kayaknya 3 tahun emang waktu yang tepat utk masukin bahasa asing. 😊

        Like

      • Kalo menurut aku sih bukan faktor utama meskipun bisa jadi. Anak bingung memilih bahasa yang mau dipakai terus bikin anak malah “mogok ngomong”. Yang semua itu ada solusi, atau pencegah ya? Misal dengan konsisten ada pembagian tugas ngomong dengan bahasa apa, Contoh: Ayah bahasa Inggris, Ibu bahasa Indonesia atau sebaliknya. Nanti otak anak kan mengatur sendiri. Kalo speech delay aku lihat lebih ke stimulus sih faktor utamanya. Aku sotoy deeeh :)))

        **pengalaman dulu Bocil 18bulan belum ada 10 kata dan disuruh terapi wicara sm DSA nya. Tapi aku belikan peluit aja utk melemaskan otot mulut dia. Kukalungin ke lehernya biar dia main2. Stop kasih TV (dulu emang kukasih krn ngebantu banget kalo Ibunya harus ngapa2in). 20 bulan kosakata makin banyak n selanjutnya tak bs dibendung. Sharing ya Nadiaaaa 😊

        Like

  7. Anak saya 2.7 tahun. Kami tinggal di Australia. Suami org Australia berbicara bahasa Inggris, saya bahasa Indonesia. Tujuannya simpel, supaya anak bisa komunikasi sama semua keluarga di Indonesia. Capek bgt, karena saya harus mengulangi setiap ucapan dia dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Karena kadang di sekolah Australia ada pelajaran bahasa Indonesia. Saya ga mau dia nanti mempraktekan bahasa non formal nya. Di rumah kami tidak memperkenalkan gadget atau tv sejak dia lahir.. Gadget tidak dipakai di depan anak kecuali butuh untuk balas email atau telp, walaupun downside nya rumah brantakan. Atau bapaknya harus sabar nunggu sampainsaya selesai berbicara dengan dia, baru saya translate ke bapaknya.

    Dia masih ada yg di campur. Krn belajar bahasa Indonesia hanya dari saya. Tapi saya akan tanya bahasa Indonesianya apa. Dan berusaha memperbaiki no matter how tired. Ketika di kereta, saya ingat ada 2 org Indonesia amaze melihat dia berbicara bahasa Indonesia. Atau saat dia switching between 2 languages ketika dengan saya dan ayahnya. Perjalanan masih panjang. Semoga bisa terus.

    Like

  8. Sepertinya, kebiasaan ngemut permen itu yg mmbuat anak mnjadi pendiam dan kurang bisa berbahasa ya. Baru baca ini spertinya memang ada bbrapa kejadian yg benar yg sama sperti saya alami Bu.

    Like

  9. Saya rasa saya harus belajar lebih banyak bahasa nih. Secara sebenarnya kemampuan berbahasa saya kurang, tapi pengennya nanti punya anak yang mahir dalam bahasa. Kalau hanya dari Ibunya saja kan jadi kurang.
    Terimakasih mbak.

    Like

  10. ini lagi jadi problem saya juga mba skrg, sblm nya slm kenal:) kebetulan ada 2 anak, si sulung juli nanti 4 tahun, ngomongnya campur aduk, saya udah berusaha konsisten berbahasa indonesia, dan ayahnya berbahasa turki, krn emang orang turki, anak ini suka sekali dgn tontonan berbahasa inggris-bhs indonesia atau turki dia jarang lihat, rencana saya bhs inggris jg buat bhs ke 3 aja dan blm saya ajarkan, sampai skrg dia blm bisa konsisten di 1 bhs, ngarepnya kalau ngomong ama saya ya bhs indonesia, dan dgn ayahnya bhs turki, tapi yang ada ternyata terkontaminasi tontonannya, dia cepat sekali tanggap dgn bhs inggris, dan kosakatanya jauh lbh berkembang, padahal kalaupun saya ajarin dr buku, masih kata2 standar bhs inggris aja, kayak warna,kendaraan,semcam itu, belum ngajarin kalimat dsb. yang ada skrg kalau ngomong campur 3 bahasa:s kalau saya ‘benerin’ bahasa indonesia nya, malah ngeyel, dia nyebut ‘tree’ saya bilang ‘pohon’ malah didebat-.-‘ ngotot kalau itu ‘tree’. jadi ngomongnya semacam cintah lorahhh, bhs turki dia jg di campur2 dgn bhs inggris kadang selipan bhs indonesia, yang ada kalau di tanya family turki, mereka nanya balik ke saya, si anak ngomong apa. saya konsisten ngajak ngomong bhs indonesia, tapi dijawab pake bhs inggris or turki kadang2.

    Like

    • Salam kenal juga, mbak😊 wah, terima kasih banyak sharingnya. Sepertinya hal itu wajar ya mbak, mengingat sharing komentator lain yg bilang kalo anak akan menggunakan bahasa yg lebih sering ia dengar. Di sini mgkn anak mbak memang lebih familiar dgn bahasa inggris krna pengaruh tontonannya yg banyak berbahasa inggris 🙂 semangat ya mbak! Semoga konsisten selalu.

      Like

Let's share what you think!

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s