Ibu dan Support Group

Tahun 2014 lalu, saya pernah curhat di blog ini tentang perlunya seminar tentang perkawinan. Saat itu merupakan satu tahun sejak saya melahirkan dan menyandang status sebagai Ibu sekaligus istri sekaligus anak sekaligus karyawati. Hectic rasanya! Tahun 2014 merupakan tahunnya buku parenting and in between saking setahunan itu yg saya baca ya buku-buku seputar pengasuhan anak dan manajemen keluarga. Gak jarang, banyaknya informasi yg saya “lahap” malah bikin saya blenger sendiri hingga jadilah postingan itu. (read also: Seminar Perkawinan)

There were days when I felt so awkward with myself, terutama setelah melahirkan. Ngeliat ibu-ibu lain yg udah duluan melewati fase tsb, saya mikir “how can they look so normal?”.

tumblr_inline_o1me11gynk1qzlmjk_500.gif

Karena yg saya rasakan saat pertama kali menjadi ibu adalah… “I don’t feel normal with myself” dan “duh, mesti ngapain nih?”. Membayangkan peran ini akan kita sandang seumur hidup, saya agak linglung. Orang bilang mungkin itu sindrom post-partum, tapi saya tetep keukeuh kalo saya ga lagi kena baby blues. Padahal justru kalo mengelak itu biasanya iya. LOL.

Continue reading

Advertisements