I’m Ready to Change! ((LAAHH??))

Percaya gak sih, beberapa waktu yg lalu I was going to hit my limit!

Pecah deh pikiran, unnecessary drama in motherhood, dan menjalar ke ineffectivities lainnya. Niatnya mau ga ngeblog dulu biar waktu luangnya dipake belajar, tapi kenyataanya saya gak bisa 😀 Buktinya ini jerawat udah nambah lagi, *apahubungannya* Jadinya ya belajar enggak, promosi diri ngeblog engga, kerja distracted yah ini sih sering, pokoknya gak ngapa-ngapain.

The root was one thing:

Continue reading

Advertisements

Mereka menyebutnya “Banci Likes”


how? how?
Kalo saya dan Pak Deni sih pertama kali nonton video itu yg terlintas adalah: “cari soundtrack-nya!” HYAHAHA salah fokus 😀 Tapi kalo dipikir-pikir sih emang lagunya cocok banget sih sama jalan cerita. Well, i won’t talk as Pak Mario here about that social phenomenon. Hanya ingin mengomentari aja, biasaaa ngomen kan selalu gampang (hihi :D), sebagai seorang pelaku sosmed yg kadang suka ikut mengagumi postingan orang-orang di luar sana. Mulai dari yg “waah…asik ya kayaknya mereka, jalan-jalan terus”, atau “hm ni orang makan di luar mulu, fancy lagi makanan-makanannya”, sampai yang “buset dah, ni orang galau mulu, nyari kegiatan lain napa” 😛 *selftoyor wakwakwak
Gak munafik, memang kadang bahkan sering postingan orang-orang itu membuat kita membandingkan hidup kita dengan hidup orang lain. Selanjutnya, their grass is always greener on the other side.

Oke, kalo menurut saya, dari video itu sebenernya si tokoh yg bernama Scott Thompson itu, he has everything potential for his happiness. He got wife, got a white collar job, but why isn’t he happy? Or is happiness not about spouse and job? Bisa jadi. By seeing other people’s life, terkadang kita lupa untuk beryukur atas hidup kita sendiri. Kita malah lebih fokus sama apa yg orang lain punya. Even worse, if we start to think those happiness which people show on socmed as an ideal comparison of the real happiness. DUH!
Semisal, kerjaan yg ideal itu kerja di sinilah di sanalah yg gaya hidupnya bisa seperti itu, liburan yg ideal itu yg kesinilah kesitulah, hidup yg ideal itu yg married usia seginilah, keep being single di usia segitulah, punya baby inilah itulah, etcetera.

Kalo ngeliat si Scott yg scrolling down postingan temen-temennya tadi yg kemudian meratapi, i thought to myself, why didn’t he just doing something fun? REAL FUN in his own way of course. Yaa meskipun motivasinya misal untuk di postingin juga, to get “likes” whatsoeva. But instead of making us to LOOK HAPPY, why don’t we just MAKE OURSELF HAPPY IN REAL? Kalo kita gak sanggup membatasi/menyaring informasi apa yg kita liat, maka cara kita menyikapi informasi-informasi itulah what matters. Unless, you’re willing to unfriend/unfollow your friend.

Dan satu lagi, be grateful! Terutama yg beragama islam, ada kan firman Alloh yg mengajak kita untuk selalu bersyukur? Yg kalo kita bersyukur maka Alloh akan menambah nikmat kita. Sedangkan apabila tidak bersyukur, maka Alloh bisa saja mengambil kembali nikmat tersebut. Look at Scott, mungkin karena dia tidak mensyukuri keberadaan istrinya, pekerjaannya, yg pada akhirnya he got none. Maybe things will be different if he’s grateful, happy, and enjoy with everything in his life. Enough said, i guess. So let’s be grateful and happy instead!

Oleh karena itu, dapat saya simpulkan dan juga sebagai catatan pengingat bagi diri saya sendiri bahwa:
Happiness

Have a good life, folks! 😉