Sabtu Bersama Bapak… nya orang lain.

20150201_104436-1Hmm… mungkin ini semacam review dari buku Sabtu Bersama Bapak by Adhitya Mulya and some words about it.

Hari Sabtu kemarin memang saya habiskan buat nyelesein buku ini, jadi cocok kan judul postingannya? Karena memang Sabtu itu saya spent time bareng petuah-petuah dari Bapaknya Satya dan Saka. Biasaaa… curi-curi waktu pas Cemplu bobo. Karena kalo gak gitu ni buku pasti udah direbut-rebut, masih untung gak disobek 😀 Terbukti dengan pembatasnya yg ilang dan tadi pagi pas pulang dari pasar saya temuin depan rumah. Basah dan keujanan :\ Saya inget banget kemarin dia mainin buku ini, bawa pembatasnya ke teras rumah, dan gak dibawa balik lagi. sigh~~

Oke, so how was this book? BERAT ! Bukan berat bahasanya, tapi nilai-nilai dan makna dari cerita yg penulis tuturkan. SUKA pake K, SUKAK!! Telat emang saya baca buku ini, out of euphoria, kemarin aja baca ini karena didorong-dorong Pak Den yg cintah banget ama buku ini. Terlebih karena dia seorang bapak kali ya..jadi fits in his shoes banget rasanya ❤ Akhirnya saya pun selesai baca ini, dan terima kasih buat Cemplu yg kebetulan Sabtu kemarin bobo siangnya agak sering 😛

Menurut saya, penulis sangat mampu menyajikan cerita dengan rapi, detil, and in a good sequence. Setiap peran memiliki cerita yg sama penting dan bermakna. Selain itu, setiap cerita juga mampu menyentuh dan mewakili realitas kehidupan keluarga masa kini, seperti jomblo-jomblo mapan, orang tua yg saling mengenalkan anak, dinamika keluarga muda, orang tua yg berprinsip untuk gak nyusahin anak, kehidupan di lingkungan kantor, dsb. Terlepas dari sarat maknanya, buat saya buku ini adalah satu-satunya buku dengan foot-notes yg paling gak penting! 😆 hahaha kocak tapi, adaaa yaa buku macem gini…ckckck. Tokoh favorit saya di sini adalah Saka alias Cakra! He is so goofy 🙄

Overall, saya selalu jatuh cinta pada karya yg berawal dari ide sederhana, tetapi menjadi sebuah gagasan yg besar, dan disampaikan dengan gaya bahasa simpel serta mudah dipahami. Karena di situlah kemudian penulis akan mampu menyetuh banyak pembaca. *halah naon *etapi serius ini! 😎

Setelah membaca buku ini otomatis saya diingatkan bahwa tugas menjadi orang tua itu tidak mudah, melelahkan, tapi membahagiakan 🙂 Apalagi saat kita melihat anak kelak menjadi seseorang yg madani. Tak perlulah kita menghitung berapa besar pahala yg didapat, karena hal tsb terlalu “grande“, biarlah itu menjadi urusan Tuhan saja. And the story also leads me to think how to raise Cemplu well, to make her a good future wife, a good future mom, and most of all is to be good as a person. Menjadikannya sebagai seseorang yg memiliki prinsip, has a strong conviction, di mana prinsip-prinsip tsb ia dapatkan dari rumah ⭐

Yak, si Cemplu…

Yang sesekali nampak tomboy, naik-naik meja dan pager, tapi kadang centlnya juga minta ampun 😯

Yang kalo ngegeplak/mukul itu rasanya kayak bukan tenaga batita ❗ tapi sering ia sangat tender saat gendong, cium, dan nyuapin boneka-bonekanya ^^’

Children are indeed every parents’ big mission.

Pict from cheeqarahmat.com

Pict from cheeqarahmat.com

By the way, tulisan Mbak Cheeqa terkait quote di atas juga bagus loh. You can come by to her page 😉